![]() |
| Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) |
Jakarta, 4 Maret 2026 – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan sesi I hari ini, Rabu (4/3/2026). Harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini ambrol hingga menyentuh level di bawah Rp7.000, tepatnya ditutup di level Rp6.950 pada akhir sesi I, atau terkoreksi 1,77% [sumber].
Penurunan Tajam BBCA dan Aksi Jual Asing
Berdasarkan data perdagangan, nilai transaksi saham BBCA mencapai Rp647,1 miliar dengan volume 92,63 juta saham. Secara teknikal, saham BBCA sudah berada di bawah garis moving average (MA) 9 dan MA 50, mengindikasikan momentum pelemahan yang masih kuat. Pola pergerakan harga yang membentuk lower high dan lower low menjadi ciri klasik dari tren penurunan [sumber][sumber].
Tekanan pada saham BBCA juga terlihat dari aksi jual investor asing. Dalam dua hari perdagangan terakhir (2-3 Maret), tercatat net foreign sell mencapai Rp183 miliar. Angka ini menambah akumulasi aksi jual asing sepanjang tahun berjalan yang sudah mencapai Rp16,97 triliun [sumber]. Meski demikian, analis dari Binaartha Sekuritas masih merekomendasikan sikap hold untuk saham BBCA dengan target harga terdekat di Rp7.525 [sumber].
Sentimen Global dan Domestik yang Membebani
Pelemahan saham BBCA tidak berdiri sendiri. Kondisi ini terjadi di tengah gejolak pasar keuangan global dan domestik yang cukup parah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri ambles 4,32% ke level 7.596,57 pada penutupan sesi I, dengan 748 saham terpuruk di zona merah [sumber][sumber].
1. Eskalasi Konflik Geopolitik Iran-Israel
Salah satu pemicu utama kekacauan pasar adalah memanasnya konflik di Timur Tengah. Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, yang memicu kekhawatiran akan krisis energi global. Harga minyak mentah melonjak tajam, dengan Brent Crude menyentuh US$82 per barel [sumber]. Dampaknya meluas ke bursa regional, di mana Korea Selatan bahkan sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt) setelah indeksnya turun lebih dari 8% [sumber].
2. Sentimen Negatif dari Fitch Ratings
Dari dalam negeri, beredar draf pengumuman lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang merevisi outlook peringkat utang Indonesia menjadi "negatif" dari sebelumnya "stabil", meskipun peringkat utang itu sendiri masih dipertahankan pada level BBB (investment grade). Revisi ini disebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi di dalam negeri [sumber][sumber].
Kepemilikan Saham BBCA: Anthoni Salim dan Grup Djarum
Di tengah gejolak harga, data terbaru dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 27 Februari 2026 mengungkap komposisi pemegang saham BBCA. Grup Djarum melalui PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pengendali dengan kepemilikan 54,94% saham. Fakta menarik lainnya, konglomerat Anthoni Salim (pemilik Indofood) tercatat menggenggam 1.416.306.835 lembar saham atau setara 1,15% dari total saham beredar. Dengan harga saat itu, nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp10 triliun [sumber][sumber].
Dampak ke Sektor Perbankan Lain
Tekanan tidak hanya dirasakan BBCA. Saham-saham perbankan besar lainnya seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) juga terkoreksi signifikan, menyeret IHSG semakin dalam [sumber]. Menariknya, di tengah kejatuhan ini, BBNI justru mengumumkan rencana buyback saham senilai Rp905,48 miliar. Aksi korporasi ini dimaksudkan untuk meredam tekanan jual dan menjaga kepercayaan pasar, dengan pendanaan berasal dari kas internal perusahaan [sumber].
Prospek dan Level Teknikal BBCA
Dari perspektif teknikal, para analis mencermati beberapa area penting. Level support terdekat BBCA berada di rentang Rp6.800-Rp7.000 yang sedang diuji. Jika area ini tidak mampu dipertahankan, harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju area Rp6.300 yang merupakan titik terendah terbaru pada grafik [sumber]. Pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik dan sentimen dari pernyataan lembaga pemeringkat sebagai penentu arah selanjutnya.
- CNBC Indonesia: Saham BBCA Nyungsep di Bawah Rp 7.000 (4 Maret 2026).
- CNBC Indonesia: IHSG Turun 4% Lebih di Sesi 1, Ini Penyebabnya (4 Maret 2026).
- IPOTNEWS: Kejutan Saham BBCA, Anthoni Salim Ternyata Pegang Segini (4 Maret 2026).
- Kontan.co.id: Cek Rekomendasi Saham AADI, BBCA, BBNI, JPFA, dan KLBF untuk Perdagangan Rabu (4/3) (4 Maret 2026).
- Katadata.co.id: IHSG Sempat Longsor Lebih dari 5,6%, Cek Sentimen Negatifnya (4 Maret 2026).
- Bisnis.com: IHSG Sesi I Turun 4,32%, Semua Indeks Sektoral Kompak Merah (4 Maret 2026).
- Kompas.com: IHSG Anjlok Imbas Konflik Iran-Israel, BEI: Bursa Regional Juga Turun (4 Maret 2026).

