Scroll untuk melanjutkan membaca

Viral "Poverty Challenge" di Korea: Candaan Kemiskinan yang Berujung Amarah Warganet

Media sosial memang tak pernah kehabisan tren baru. Namun, tak semua tren berakhir dengan tawa. Baru-baru ini, jagat maya Korea Selatan dihebohkan dengan sebuah fenomena kontroversial bernama "Poverty Challenge" atau tantangan kemiskinan. Alih-alih mendapat simpati, tren ini justru menuai kritik pedas dan dianggap sebagai bentuk ejekan terhadap mereka yang benar-benar hidup dalam kekurangan (Marketeers, 2026).

Bukan Hidup Miskin, Tapi Gaya Hidup Mewah yang Dikemas dengan Sarkasme

Lalu, seperti apa sebenarnya Poverty Challenge ini? Tren ini diikuti oleh para konten kreator yang hidup berkecukupan, bahkan cenderung mewah. Mereka membuat unggahan yang secara sarkastik menyebut diri mereka "miskin" atau sedang mengalami "krisis finansial", namun di saat yang sama memamerkan gaya hidup yang jauh dari kata miskin (The Independent Singapore, 2026).

Beberapa contoh yang ramai diperbincangkan dan menuai kecaman antara lain:

  • Seseorang yang mengunggah fotonya sedang menyantap mi instan, tetapi duduk di kursi kelas satu pesawat.
  • Konten yang memamerkan kereta bayi mewah merek Dior dengan harga fantastis, namun dengan keluhan seolah pembelian itu membuatnya jatuh miskin.

Bagi publik, konten semacam ini terasa sangat janggal dan tidak lucu. Alih-alih melihat humor, mereka melihat sebuah olok-olok yang menyakitkan di tengah kesulitan ekonomi yang nyata.

Reaksi Publik: Dari Kekesalan hingga Sentilan Sastra

Tak heran, gelombang kritik pun langsung membanjiri media sosial. Banyak warganet menilai tren ini sangat tidak peka (nirempati) dan meremehkan realitas pahit yang harus dihadapi masyarakat Korea Selatan, di tengah tingginya biaya hidup, tekanan pekerjaan, dan kesenjangan ekonomi yang semakin melebar. Bagi mereka yang harus memilih antara membayar sewa atau membeli makanan, candaan ini terasa seperti tamparan di wajah.

Fenomena ini bahkan dikaitkan dengan sebuah karya sastra klasik Korea berjudul Stolen Poverty karya Park Wan-suh. Novel tersebut mengkritik bagaimana kelompok berada "meminjam" narasi kemiskinan—berpura-pura merasakan penderitaan—tanpa pernah benar-benar mengalaminya (The Korea Times, 2023). Dalam konteks Poverty Challenge, kemiskinan diperlakukan sebagai gaya atau gimmick konten demi mengejar popularitas, bukan sebagai realitas hidup yang penuh perjuangan dan keterbatasan.

Sisi Gelap Viralitas: Antara Relevansi dan Empati yang Luntur

Dari sudut pandang budaya digital, tren ini menjadi cerminan sisi gelap media sosial. Demi mengejar engagement dan menjadi viral, keinginan untuk tampil relevan sering kali mengalahkan empati dan kepekaan sosial. Konten dibuat tanpa mempertimbangkan konteks dan dampaknya terhadap kelompok masyarakat tertentu, terutama ketika menyentuh isu sensitif seperti kemiskinan dan kesenjangan ekonomi (Social Media + Society, 2021).

Pelajaran Penting bagi Brand dan Pelaku Bisnis

Kontroversi Poverty Challenge ini bukan hanya sekadar gosip media sosial. Ia menjadi tanda peringatan penting, terutama bagi para pelaku bisnis dan brand. Di era di mana konsumen semakin kritis, sensitivitas sosial menjadi faktor krusial yang tak bisa diabaikan dalam strategi komunikasi digital (Harvard Business Review, 2020).

Kesalahan dalam membaca situasi sosial atau membuat konten yang dianggap tidak peka tidak hanya berisiko memicu backlash (serangan balik) di dunia maya, tetapi juga dapat merusak reputasi brand dalam jangka panjang. Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang serba cepat, justru empati, kesadaran sosial, dan pemahaman mendalam tentang realitas audienslah yang akan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik yang autentik.


Reference:
Baca Juga
Berita Terbaru
  • Viral "Poverty Challenge" di Korea: Candaan Kemiskinan yang Berujung Amarah Warganet
  • Viral "Poverty Challenge" di Korea: Candaan Kemiskinan yang Berujung Amarah Warganet
  • Viral "Poverty Challenge" di Korea: Candaan Kemiskinan yang Berujung Amarah Warganet
  • Viral "Poverty Challenge" di Korea: Candaan Kemiskinan yang Berujung Amarah Warganet
  • Viral "Poverty Challenge" di Korea: Candaan Kemiskinan yang Berujung Amarah Warganet
  • Viral "Poverty Challenge" di Korea: Candaan Kemiskinan yang Berujung Amarah Warganet
Posting Komentar
Tutup Iklan